Kisah Inspiratif – Oma Gerda: 61 Tahun Setia Melangkah Bersama Legio Maria

Kunjungan saya kepada Oma Maria Martha Gerda Borggreve, yang akrab disapa Oma Gerda, kemarin sore meninggalkan kesan mendalam. Pada usia 78 tahun, Oma masih penuh semangat, hangat dalam menyambut tamu, dan aktif membantu Legio Maria sebagai Asisten Pemimpin Rohani (APR) di Kuria Mater Dei, Kelapa Gading.

Oma adalah anak pertama dari lima bersaudara, dengan ayah asli Belanda dan ibu Indonesia. Melihat wajahnya sekarang, saya membayangkan betapa cantiknya Oma ketika muda plus tubuhnya yang tinggi (karena ada bulenya), bisa jadi Oma spt fotomodel ketika masih muda. Kalau orang Surabaya bilang, “Cuantikkk ee poll!”
Tetapi sore itu, inner beautynya Oma jauh lebih cantik. *kecantikan hati Oma pun terasa melalui keramahan dan kerendahan hatinya.

Dengan gembira namun rendah hati, Oma menyambut saya sambil berkata, “Siapalah saya ini dikunjungi oleh Ketua Senatus.” Saya pun malu jadinya. Sambutan itu mengingatkan saya pada sukacita perjumpaan Maria dan Elisabet: sebuah kunjungan sederhana yang dipenuhi kehangatan dan kerendahan hati.

Perjalanan Oma bersama Legio Maria dimulai di Surabaya ketika usianya baru 17 tahun (lagi cakep-cakepnya). Kini, sekitar 61 tahun telah dilaluinya sebagai legioner. Oma juga pernah dipercaya menjadi perwira di Senatus Malang – sebagai sekretaris maka dia mengurus korespondensi dengan Medan, Yogya, Bandung, dll. Betapa panjang perjalanan kesetiaan itu, melewati berbagai tahap kehidupan, tanggung jawab keluarga, sukacita, dan dukacita.

Oma adalah istri prajurit dari Laksamana Pertama TNI (Purn.) Adi Mulyo. Menurut penuturannya, *keaktifan dalam Legio Maria sangat membantu dirinya menjalani kehidupan sebagai istri seorang prajurit dan komandan kapal perang. Ia turut mendampingi para istri prajurit yang menjadi anak buah suaminya. Pengalaman melayani sebagai legioner menjadi bekal untuk hadir, mendengarkan, dan menguatkan keluarga-keluarga prajurit tersebut.

Dalam kehidupan pribadinya, Oma pun harus berani dan mandiri. Dari empat kali melahirkan, hanya pada kelahiran anak pertama suaminya dapat mendampingi. Ketika melahirkan anak kedua hingga keempat, Oma menjalaninya tanpa kehadiran suami. Ada kalanya ia meminta bantuan saudara atau tetangga sesama istri prajurit untuk mengantarnya ke rumah sakit bersalin. Pasti Oma sangat disayang dengan semua tetangga-tetangganya – baik waktu penempatan di Surabaya, Makassar, Maluku dan Papua.

Mendengarkan cerita itu, saya membayangkan keberanian seorang ibu yang menghadapi saat-saat penting dalam hidupnya tanpa didampingi suami. Oma belajar mengambil keputusan, menerima bantuan orang-orang di sekitarnya, dan terus menjalani tanggung jawabnya bagi keluarga.

Namun, bagian yang paling menyentuh hati saya adalah ketika Oma bercerita tentang kehilangan anak ketiganya karena sakit. Anak yang dikenangnya sebagai anak yang paling ganteng itu meninggal pada usia 41 tahun.

Di tengah kehilangan sebesar itu, Oma mengatakan bahwa ia bersyukur karena telah diberi kesempatan merawat dan membesarkan anaknya selama 41 tahun.

Mendengar penuturan Oma, saya sungguh menahan tangis saya. Saya pun pernah kehilangan putri saya, Emma. Cerita Oma menyentuh duka yang juga saya bawa dalam hati. Saya tahu betapa berharganya setiap kenangan bersama anak yang kita kasihi.

Saya tersentuh oleh cara Oma mengenang putranya dengan penuh syukur, bukan dengan duka. Oma Gerda tetap melihat 41 tahun kebersamaan itu sebagai anugerah Tuhan. Sore itu, melalui cerita Oma, saya ikut dikuatkan untuk terus mensyukuri waktu yang pernah Tuhan berikan kepada saya bersama Emma.

Di situlah saya melihat keteguhan iman seorang ibu: membawa kerinduan dan dukanya kepada Tuhan, sambil tetap bersyukur atas kehidupan anak yang pernah dipercayakan kepadanya.

Bagi saya, Oma Gerda adalah seorang prajurit Maria yang berani, mandiri, dan teguh dalam iman. Pembentukan sebagai legioner menyertai kehidupannya sebagai istri, ibu, dan pendamping sesama. Hingga usia 78 tahun, Oma masih memberikan waktu, perhatian, dan tenaganya bagi Legio Maria.

Saya datang mengunjungi Oma dan namun saya pulang membawa penguatan iman dari kisah hidupnya.

Terima kasih, Oma Gerda, atas sambutan yang hangat dan kesaksian hidup yang begitu berharga. Semoga Tuhan senantiasa menganugerahkan kesehatan, penghiburan, dan sukacita kepada Oma. Semoga Bunda Maria terus menggandeng tangan Oma dalam setiap langkah kehidupan dan pelayanan.

peluk cium kami.

Kisah Inspiratif – Uci, Legioner Muda dari Penajam, Kalimantan Timur (Kuria Dahor)

Bertumbuh dalam Iman dan Prestasi

Dari Penajam, Kalimantan Timur, dekat kawasan Ibu Kota Nusantara, hadir sebuah kisah yang membanggakan dari seorang legioner junior. Namanya Lucy Filipini Saro, yang akrab disapa Uci. Di usianya yang baru 13 tahun, ia memperlihatkan bahwa belajar, mengembangkan bakat, dan melayani Tuhan dapat berjalan bersama.

Uci kini duduk di kelas VIII SMP ITCI PPU. Sejak kelas VI SD, ia telah bergabung dalam Legio Maria di Presidium Ratu Para Perawan, Paroki Santa Maria dari Fatima, Penajam, yang berada dalam naungan Kuria Dahor. Sejak usia muda, ia mulai mengenal kebersamaan dalam doa dan pelayanan sebagai anggota keluarga besar Legio Maria.

Ada banyak hal yang patut kita syukuri dari anak ini. Uci berhasil meraih juara pertama lomba membaca Kitab Suci tingkat paroki. Ia juga meraih juara pertama lomba desain logo ulang tahun paroki. Di sekolah, ia pun memperoleh peringkat pertama di kelasnya. Kemampuan membaca, kreativitas, dan ketekunannya belajar menjadi talenta yang dapat terus dikembangkan untuk kebaikan.

Yang juga menggembirakan, Uci mengambil bagian dalam pelayanan sebagai misdinar. Menurut penuturan ibunya, selama sehat dan tidak berhalangan, ia selalu berusaha hadir di gereja. Di tengah kegiatan sekolah dan berbagai kesibukan, ada tempat yang selalu ia berikan bagi Tuhan dan Gereja.

Bagi saya, kehidupan Uci menjadi kesaksian sederhana tentang iman yang bertumbuh melalui keseharian. Belajar dengan sungguh-sungguh merupakan cara mensyukuri kemampuan yang Tuhan berikan. Membacakan Kitab Suci menjadi kesempatan menyampaikan sabda-Nya kepada umat. Membuat desain untuk paroki pun menjadi cara mempersembahkan kreativitas bagi kehidupan Gereja.

Tentu, perjalanan Uci masih panjang. Ia masih membutuhkan pendampingan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh. Kisahnya mengingatkan kita, para legioner senior, untuk hadir mendampingi anggota junior: menyemangati mereka, mendengarkan kesulitan mereka, dan membantu mereka menemukan sukacita dalam doa serta pelayanan.

Di dekat Nusantara yang sedang dibangun, kita pun melihat harapan bagi masa depan Gereja dalam diri seorang anak seperti Uci. Semoga semakin banyak anak muda mendapat kesempatan mengembangkan bakat sekaligus bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.

Teruslah bertumbuh, Uci. Selamat atas prestasi-prestasimu! Semoga engkau tetap rendah hati, tekun belajar, dan bersukacita dalam pelayanan. Kiranya Bunda Maria senantiasa membimbingmu semakin dekat kepada Yesus, sehingga setiap talenta yang engkau miliki menjadi berkat bagi sesama.

Senatus bangga denganmu Uci !

Kisah Inspiratif dari Oma Margaret

Dear Senatus,

Pagi ini saya mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk bertemu Oma Margaret, legioner berusia 92 tahun dari Komisium Jakarta Utara. Oma Margaret bisa jadi Legioner tertua di Senatus kita, atau mungkin ada yang lebih tua?

Kami bertemu di Gua Maria Gereja Regina Caeli. Oma bercerita banyak tentang keluarga, pelayanan, dan pengalaman-pengalaman iman yang dialaminya, termasuk mujizat-mujizat yang terjadi berkali kali dalam hidupnya.

Oma lahir di jaman Jepang dan dia melihat keluarganya ditawan oleh tentara Jepang. Di awal-awal kehidupannya, Oma sudah menjadi Yatim Piatu. Tapi kebaikan Tuhan menyertainya, dia diijinkan bersekolah gratis di Sekolah Santa Maria Malang oleh para suster Belanda waktu itu.

Oma Margaret mulai menjadi legioner aktif sejak tinggal di Malang pada tahun 1960-an. Lebih dari setengah abad telah berlalu. Oma menikah, membesarkan anak-anak, lalu memiliki cucu dan cicit. Kini, sebagai anggota auxilier, Oma tetap setia mendukung Legio Maria melalui doa.

Kesetiaan Oma juga tampak dalam kebiasaannya mengikuti Misa setiap hari, menerima Tubuh Kristus, dan rajin beradorasi. Mendengarnya bercerita, saya merasa bahwa doa sungguh menjadi bagian dari hidup Oma, bukan sekadar kegiatan di sela waktu.

Di tengah cerita-cerita yang menyentuh, Oma juga membuat kami tertawa. Katanya, rambutnya dahulu sudah putih semua, tetapi sekarang hitam lagi – karena dicat! 😄 Oma juga dengan bangga bercanda bahwa dialah yang paling jago masak di antara para legioner PIK.

Saya pulang dengan hati yang bersukacita, terharu, semangat juga dan banyak mendapat pelajaran. Oma Margaret menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan dan Bunda Maria dapat terus bertumbuh dalam setiap tahap kehidupan. Cara melayani boleh berubah, tetapi hati yang setia tetap menyala spt Prajurit yang siap sedia bertempur.

Terima kasih, Oma Margaret, atas cerita, tawa, teladan, dan doa-doa Oma bagi kami. Di usia 92 tahun, Oma masih mengingatkan kami untuk terus setia.

Love you Oma Margaret. 🥰🥰

Bagaimana dengan kita?

Terimakasih Bapa Frank Duff, Tuhan Mempertemukan Puteriku dengan Bapa Fransiskus

Saat itu bulan Februari 2024. Ketika itu putri sulungku, yang berprofesi sebagai pramugari senior di maskapai penerbangan nasional Garuda, memohon doaku agar ia nantinya termasuk sebagai salah satu dari tim pramugari yang dipilih untuk melayani penerbangan Bapa Suci Paus Fransiskus saat kunjungan beliau ke Asia Oceania.

Bermacam perasaan memenuhi hatiku. Sebagai seorang ibu, tentu aku sangat berharap putriku lolos seleksi untuk tugas pelayanan mulia itu. Tetapi, semua masih berupa rencana. Kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Jakarta yang direncanakan awal September 2024 memang sudah tertulis dalam agenda, tetapi belum menampakkan wujud nyata persiapan apa pun.

Namun, aku tahu bahwa aku harus bergerak sedini mungkin seiring bergulirnya waktu. Maka, sejak putriku mengutarakan harapan indah yang samar itu, aku segera meraih senjata doa. Aku teringat  Bapak Frank Duff, yang dari Surga abadi setia menjadi perantara doa-doa para legioner kepada Tuhan. Jadi, setiap hari setelah mendaraskan ujud-ujud doa Presidium kami, aku menambahkan doa sesuai impian putriku dan harapan kami melalui perantaraan Hamba Allah Frank Duff. Jika Tuhan berkenan, tentu Ia akan mengabulkan permohonanku dengan bantuan Bapak Frank Duff.

Tanpa terasa, sudah berbulan-bulan aku mendaraskan permohonan yang sama setiap hari, hingga sebuah kabar sangat menggembirakan datang tepat di hari ulang tahunku, yaitu tanggal 8 Agustus. Putriku dihubungi secara pribadi oleh atasannya.  Ternyata ia dipilih untuk bergabung dalam tim awak kabin melayani penerbangan Bapa Suci Paus Fransiskus dari Indonesia ke Papua Nugini!

Lalu, mulailah serangkaian persiapan berupa pengisian aneka formulir. Sayangnya kegiatan ini bersifat amat sangat rahasia sehingga tak boleh disebarluaskan karena menyangkut keamanan tokoh penting, bahkan di anggota keluarga inti pun tidak diijinkan untuk mengetahuinya. Hanya akulah satu-satunya sekaligus sebagai ibunya yang diijinkan untuk mengetahui. Meski sulit karena ada desakan hati luar biasa untuk berbagi, namun Tuhan memampukan aku mengunci rapat mulutku dari keinginanku memberitahu sanak saudara.

Singkat cerita, tibalah hari yang dinanti. Setelah selesai melakukan kunjungan apostoliknya pada tanggal 3 hingga 6 September 2024 di Jakarta. Bapa Suci Paus Fransiskus melanjutkan perjalanan ke Papua Nugini dengan memakai pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-7780. Putriku termasuk di antara 12 awak kabin (cabin crew) dan 4 awak pesawat (flight crew) yang dipilih untuk melayani Bapa Suci Paus Fransiskus selama penerbangan yang memakan waktu sekitar 6 jam tersebut.

Sungguh mengharukan, membanggakan, dan melegakan. Tuhan bermurah hati melimpahkan berkat-Nya kepada kami sekeluarga lewat terpilihnya putriku. Aku bersyukur atas berkat Tuhan ini dan berterima kasih kepada Bapak Frank Duff yang telah berkenan meneruskan permohonanku kepada Allah Bapa di Surga.

Sebagai Legioner, kita memiliki seorang pengantara yang dapat kita mohonkan pertolongannya untuk membawa permohonan -permohonan kita ke hadirat Allah Bapa.  Sejak Juni 1996 telah dimulai proses beatifikasi Bapak Frank Duff oleh Kardinal Desmond Connell, Uskup Agung Dublin. Setelah hampir tiga dasawarsa, semoga ada kemajuan dalam proses pengakuan kekudusan Bapak Frank Duff oleh Gereja.

Marilah kita setia mendoakan beliau.

Ave Maria,

Johana Maria Vianney Budi Suprihati

Perwira Presidium Maria Guadalupe – Komisium Jakarta Timur

Kenapa sih rapat mingguan penting bagi seorang Legioner?

Alokusio 25 Juni 2023, Buku Pegangan Bab 11 Bagian 5; halaman 84-85 “Rapat Mingguan Presidium”

Sebelum terangkat ke Surga, Yesus memberikan tugas kepada murid-murid-Nya (“pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…”) dan juga menjanjikan Roh Kudus sebagai penolong. Setelah itu murid-murid kembali ke kota, naik ke ruang atas tempat mereka menginap, dan berdoa bersama Maria.
Pada saat disalib, Yesus memberikan Maria kepada murid-murid-Nya sebagai Ibu mereka, dan murid-murid menerima dan berpaling kepada Maria. Layaknya kita curhat dan diskusi dengan orang tua kita, dengan ibu kita, pada saat berkumpul, murid-murid selain berdoa, juga pasti ada pembicaraan. Ada curhatan (karena Yesus sudah pergi), ada diskusi (mengenai tugas dan Roh Kudus), dan dalam semua itu, Maria sebagai Ibu mereka menjadi pusatnya.

Rapat mingguan bisa dibilang mengenang pengalaman murid-murid pada peristiwa tersebut. Kita juga menerima tugas dari Yesus pada saat kita dibaptis, dan ada tugas-tugas kita sebagai Legioner. Yang kita lakukan pun sama, berkumpul setiap rapat mingguan di sekitar Maria, berdiskusi dan berdoa bersama. Yesus pun turut hadir, seperti kata ayat “di mana 2 atau 3 orang berkumpul dalam nama Yesus, di situ Yesus hadir”

Legio sendiri berarti pasukan, dan kita para legioner adalah pasukan yang sedang dilatih; Ibarat kita sedang dipersiapkan sebelum terjun berperang, yaitu menjalankan misi menyebarkan rahmat Maria. Rapat mingguan adalah sarana persiapan bagi Legioner, yang di dalamnya ada 2 bagian penting:

  1. Penugasan / assignment
    Rapat mingguan melatih kebersamaan dan kedisiplinan kita, dan pada saat itulah kita masing-masing diberikan tugas yang tujuannya adalah untuk menyenangkan hati Allah dan menyucikan diri. Kita juga melaporkan dan mengevaluasi setiap tugas yang telah kita laksanakan. Penting melakukan hal tersebut, supaya kita bisa menyadari anugerah Tuhan dan support dari Maria dan Roh kudus dalam setiap tugas yang telah kita jalankan. Tanpa laporan dan evaluasi, tugas yang kita lakukan tidak ada bedanya dengan tugas sukarela. Asal lewat saja dan tidak ada maknanya.
  2. Pengembangan / development
    Perlu diingat kembali bahwa tujuan Legio adalah kemuliaan Allah melalui kekudusan anggotanya. Kekudusan diperoleh bukan dari berbuat (doing), tapi dari pengembangan (building) {Bab 2; hal. 12 “Tujuan Legio Maria”}
    Pengembangan sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pelatihan (training/enrichment) dan tantangan (challenge), yang di mana kedua hal tersebut kita peroleh setiap kali menjalankan rapat mingguan. Dalam rapat mingguan kita memperoleh rahmat atas karya kita dan dicurahi semangat kedisiplinan rohani (morale boost), melalui doa-doa, bacaan rohani, serta alokusio. Ini adalah pelatihan (enrichment). Sedangkan tugas-tugas yang kita peroleh adalah tantangannya (challenge).

Rapat mingguan sedemikian lengkap, balance, dan sangat memperkaya kita sebagai Legioner, jadi tidak berlebihan kalau dalam bacaan, rapat mingguan disebut sebagai jantung, pembangkit tenaga, dan bahkan gudang harta bagi legioner. Ibarat misa adalah kewajiban umat katolik, rapat mingguan adalah suatu keharusan juga bagi Legioner. Kalau kita tidak bisa menjalani minggu sepenuhnya tanpa berkat ekaristi, sebagai Legioner kita tidak bisa menjadi kudus dan berkarya tanpa rapat mingguan.

Semoga kita selalu menghargai setiap kesempatan, tetap semangat dan disiplin dalam menjalani rapat mingguan kita, supaya kita bersama-sama terus bertumbuh dan semakin kuat dalam perbuatan dan keberadaan kita sebagai Legioner.

Deaven – Legioner Anak Muda –

putera dari Sdri. Wilsa (Bendahara Komi Jak Bar 2)

Visa ke Irlandia

(Kesaksian terkabulnya doa dengan perantaraan Hamba Allah Frank Duff)

Belum satu tahun saya menjadi anggota aktif Presidium Maria Guadalupe, ketika putra sulung saya menyampaikan kabar yang menggembirakan! Sebagai peneliti di salah satu universitas di Kopenhagen-Denmark, Demi Tristan Djajadi  – nama putra saya,  akan mengikuti konferensi ilmiah di Dublin-Irlandia pada 30 April – 4 Mei 2023.

Kabar ini bagaikan hadiah dari Bunda Maria untuk saya, walaupun bukan saya sendiri yang berkunjung ke Irlandia. Dengan bersemangat saya meminta Demi mewakili saya mengunjungi Kantor Pusat Legio Maria dan rumah Hamba Allah Frank Duff. Cukuplah memotret dan menceritakan kepada saya kisah kunjungannya, sudah membawa sukacita bagi saya.

Tetapi, kegembiraan itu berganti jadi kecemasan, saat muncul kesulitan dalam pengurusan visa Irlandia. Agen perjalanan yang membantu Demi mengurus visa mengatakan, tidak bisa mengikuti konferensi dan setelahnya berlibur. Harus memilih visa kerja (mengikuti konferensi termasuk bekerja) atau visa turis (berlibur). Di samping itu, paspor dari negara berkembang menambah kesulitan memperoleh visa Irlandia. Mungkin sangat jarang orang dari negara berkembang berkunjung ke Irlandia.

Putra saya patah semangat. Impiannya menjelajah beberapa tempat di Irlandia setelah mengikuti konferensi, sepertinya tak dapat diwujudkan. Bahkan, jika tidak berhasil memperoleh visa, ia terpaksa mengikuti konferensi secara daring (online).

Saya teringat Doa Memohon Beatifikasi Hamba Allah Frank Duff yang didalamnya ada kesempatan mengucapkan intensi pribadi. Saya mendaraskan doa itu setiap hari dengan permohonan agar putra saya memperoleh visa Irlandia untuk menghadiri konferensi dan berlibur.

Selama 1,5 bulan saya berdoa memohon bantuan doa Bapak Frank Duff, agar Tuhan berkenan memberi rahmat melalui Bunda Maria, sehingga Demi dapat memperoleh visa Irlandia untuk dua tujuan yang diharapkannya.

Sekitar akhir Maret, ada titik terang. Agen perjalanan meminta putra saya menulis surat berisi maksud berkunjung ke Irlandia dan destinasi yang direncanakan. Surat ini akan dilampirkan dalam pengurusan visa. Putra saya memaparkan rencananya berziarah ke Santa Perawan Maria di Knock, mengunjungi beberapa tempat wisata yang menarik baginya seperti Galway, Tralee, Killarney, dan Cork.

Suatu sore di pertengahan April, berbeda dari biasanya Demi melakukan video call dengan saya. Di tengah perbincangan, ia menunjukkan lembar paspornya yang dilengkapi visa Irlandia! Ia bisa mengikuti konferensi dan berlibur di sana selama 2 minggu! Puji Tuhan… terima kasih Bunda Maria dan Bapak Frank Duff!

Demi berangkat ke Dublin pada 30 April pagi. Di sela-sela kesibukan mengikuti konferensi, Demi mengunjungi Kantor Pusat Legio Maria dan rumah Bapak Frank Duff pada 2 Mei. Di sana ia disambut   dengan   ramah   oleh   Ms.   Maureen.   Putra   saya   membagikan   foto-foto   hasil jepretannya. Melihat foto-foto itu sudah membuat hati saya sangat senang, serasa berada di sana.

Kepada putra saya, Ms. Maureen mengungkapkan harapannya: semoga tahun depan Demi bisa kembali ke Dublin bersama saya. Harapan Ms. Maureen sudah pasti merupakan keinginan saya juga, tentunya menjadi kerinduan setiap Legioner dari segenap penjuru dunia untuk dapat menjejakkan kaki di Kantor Pusat Legio Maria dan melihat kediaman Bapak Frank Duff. Apalagi menurut putra saya, Irlandia sangat indah panoramanya, ditambah budaya dan musik tradisionalnya yang menawan.

Meski telah berada dalam Kerajaan Allah, masuk dalam barisan para Kudus di surga, Bapak Frank Duff menjadi pendoa bagi  para Legioner. Sebagai ungkapan syukur, setiap hari  saya berdoa  agar  kesucian  Bapak  Frank  Duff  segera diakui  oleh  Gereja,  sehingga  Legio  Maria semakin dikenal luas, tentara Bunda Maria semakin berlipat ganda, sesuai keinginan dan harapan Ibu Surgawi kita.

(Patricia Heinrica Mariam Cendrawati Suhartono – Perwira Presidium Maria Guadalupe, Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur – Indonesia)

“Akhirnya jawaban itu datang”

Hari ini aku mengenang kembali peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu..

Pagi itu aku berdiri di teras memandangi jalan yang sepi senyap, dunia serasa berhenti berputar karena Corona Virus yang menyebar begitu menakutkan. Seluruh kegiatan dan aktifitas berganti menjadi serba online, terasa asing memasuki dunia baru. Kenapa dan mengapa ini terjadi, aku harus bagaimana menyikapi semua ini. Pertanyaan itu terus menggelitik dan menari-nari dalam pikiranku.

Dalam situasi inilah pada akhirnya aku mengalami perjumpaan dengan Pak Asep. Pak Asep adalah salah satu korban dari LOCK DOWN.

Pak Asep bercerita tentang kondisinya saat ini yang tak lagi bekerja, pun untuk makan terkadang harus menunggu belas kasihan orang lain. Bagaimana nasib anak dan istrinya tak mampu lagi ia pikirkan. Begitu takut dan keluh memikirkan tentang hari esok.

Cerita miris ini berakhir pada pertanyaan: apakah ibu bisa membantu saya agar keluarga saya bisa tetap bertahan. Aku terdiam tak mampu menjawab karena akupun mengalami hal yang sama, tak lagi bekerja. Tak bisa berdiam diri, dalam keheningan aku mengobrol dengan Bunda Maria: Bun, apa yang harus kulakukan agar bisa membantu Pak Asep dan juga Asep-Asep lainnya.

Bundapun menjawab dengan mencetuskan ide untuk membantu Pak Asep berjualan buah-buahan, Pak Asep yang menyiapkan buah-buahan dan aku yang memasarkannya. Aku sebarkan jualan ini melalui semua WA Grup yang aku miliki dengan tagline: “Terima kasih sudah berbagi dengan cara membeli.“

Perbuatan kecil ini ternyata bukan hanya mampu mengubah hidup Pak Asep, tetapi juga mengubah pola pikir banyak orang bahwa memberi tidak harus menunggu kita kaya, berbagi tidak perlu menunggu sampai kita berkelebihan dan dengan perbuatan kecil inipun memacu semangat putriku untuk melakukan karya pelayanan kasih melalui program Helping hand. Helping hand adalah pelayanan yang dilakukan oleh pemerhati Mental Health.

Sebagai tentara Bunda Maria, situasi ini tidak mampu menghentikan tangan-tangan legioner untuk terus berkarya. Begitupun Pak Asep, membalas kemurahan Tuhan dengan mengumpulkan kardus bekas dari rumah ke rumah legioner dan umat paroki untuk dijual dan dana yang didapat kami bagikan kepada pemulung dan anak jalanan berupa nasi bungkus (…demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga; Lukas 5:16).

Program pengumpulan kardus bekas bagi yang tersisih masih terus berlangsung sampai saat ini. Tak pernah berhenti dan jangan pernah berhenti menjadi tangan-tangan kasih dalam situasi apapun, dalam setiap masalah, setiap keadaan dan peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi pasti ada Bintang yang ingin Tuhan titipkan bagi kita yang dikasihi-Nya.

Banggalah menjadi seorang legioner! Dengan membawa panji-panji Bunda Maria mari kita terus bertempur melawan keadaan, situasi dan keegoisan kita sendiri. Ave Maria.

Tebarkanlah kasih kemanapun anda pergi, jangan biarkan seorangpun yang datang kepadamu pergi dengan tidak bahagia!! (Santa Teresa dari Kalkuta/Mother Teresa)

(VFH)

Rekoleksi “ Legio Bersinode” Komisium Palembang

Oleh : Yanti – Komisium Palembang

Pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2022 bertempat di Superiorat SCJ Gentiaras, Jalan Karya Baru No. 94 KM 7 Palembang, Komisium Ratu Pencinta Damai Palembang mengadakan rekoleksi “Legio Bersinode” yang diikuti oleh 89 peserta dari 9 presidium. Rekoleksi diawali dengan misa kudus pada pukul 08.00 WIB yang dipimpin oleh Rm. Agustinus Riyanto SCJ dan konselebran Pemimpin Rohani Komisium, RD Vinsensius Setiawan Triatmojo.

Rekoleksi dimulai pada pukul 09.30 WIB dengan penjelasan dari Pemimpin Rohani mengenai pengertian, tema, sasaran, latar belakang, maksud dan tujuan sinode. Secara singkat, sinode artinya berjalan bersama Gereja sebagai satu persatuan umat Allah untuk merefleksikan dirinya dan tugas perutusannya. Dan karena Legio Maria juga adalah bagian dari umat Allah, maka seluruh legioner juga diundang untuk ikut bersinode bersama semua umat yang telah dibaptis, baik atas nama umat paroki, komunitas, mau pun kelompok kategorial/ devosional. Peserta kemudian dibagi menjadi delapan kelompok berbeda berdasarkan presidium masing-masing untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai proses refleksi, discernment, dan koreksi/ evaluasi diri. Adapun pertanyaan-pertanyaannya sebagai berikut :

    • Tema wajib : Mendengarkan

Bagaimana Allah berbicara kepada kita melalui suara yang kadang kita abaikan? dst

    • Tema Pilihan : Dialog di dalam Gereja dan masyarakat (internal dan eksternal)

Internal : Adakah kisah-kisah istimewa terkait relasi dan dialog antar saudara seiman? dst

Eksternal : Adakah kisah-kisah istimewa dialog umat katolik dengan sesama/ non katolik? dst

Notulis dari tiap kelompok akan mencatat dan mengumpulkan jawaban, usulan, ide-ide yang muncul dalam dinamika sinode, merangkumnya lalu menyerahkan semua hasil diskusi ke sekretaris komisium. Selanjutnya sekretaris komisium akan merangkum semua jawaban lalu dikirim ke Panitia Sinode Keuskupan Agung Palembang.

Nilai inspiratif dari kegiatan ini adalah :

  1. Legioner diharapkan berperan aktif dalam sinode di paroki/ lingkungan masing-masing
  2. Legioner peduli terhadap situasi dan kondisi Gereja dan masyarakat
  3. Legioner ditantang untuk tetap setia dalam tugas perutusan dalam Gereja, misalnya mengunjungi mereka yang sudah tidak peduli dengan kehidupan menggereja dan tidak memelihara imannya.

Scroll Up